Rabu, 13 Februari 2013

KESADARAN

1 komentar


Seorang murid datang kepada sang guru dan bertanya :

Murid : “Guru, berikan saya wejangan untuk menjadi bijak.”

Guru   : (karena hari itu adalah hari diamnya maka dia menuliskan di atas kertas dan menulis: KESADARAN)

Murid : “Tapi itu terlalu singkat guru, bisakah guru menjelaskannya dengan lebih detail...?”

Guru  : Mengambil pena dan menulis :  KESADARAN, KESADARAN, KESADARAN.

Murid : Ya, guru. Tetapi apakah artinya kesadaran itu.

Guru  : kembali menulis : KESADARAN, KESADARAN, KESADARAN artinya adalah “kesadaran”.

Kesadaran adalah mengamati diri kita sendiri.
Tidak ada seorangpun yang dapat menunjukkan bagaimana caranya.
Amati diri sendiri, ketika kita mengerti ; perubahan terjadi.
Dan ketika segala sesuatu di luar kita berubah,  kita adalah candu dari Kesadaran.

Sabtu, 07 Juli 2012

Pikiran Yang Melayang-Layang

0 komentar

Kecemasan bukan hanya siksaan yang kita minta supaya diredakan Allah, melainkan juga kelemahan yang kita minta supaya Dia ampuni---karena Dia telah meminta kita untuk tidak mengkhawatirkan hari esok.
Banyak dari kekhwatiran kita bersumber dari kecenderungan kita untuk melebih-lebihkan kemungkinan terjadinya peristiwa yang membahayakan dan membesar-besarkan kemungkinan akibat buruknya. Saat membayangkan masa depan, imajinasi kita berkembang menjadi liar. 

Cara terbaik untuk mengatasi pemborosan energi mental dan emosi ini adalah hidup dengan menjalani saat ini, sekarang ini. Bukan apa yang akan kita jalani esok, minggu depan, apalagi bulan depan melainkan saat ini disini. Memang lebih mudah mengatakan daripada menjalaninya. Pikiran manusia sering melayang-layang, terutama jika kita tidak terkonsentrasi pada sesuatu yang merangsang pikiran.

Jumat, 22 Juni 2012

Kasih

0 komentar
Karena dibesarkan dalam keluarga yang suka menganaiaya, seorang gadis bersikap getir kepada orangtuanya. Tetapi ketika didiagnosis mengidap kanker payudara, dia memutuskan untuk mencintai orangtuanya, meskipun punya masa lalu yang kelam.

Setiap pagi, saat berangkat kerja, dia berkata kepada ibunya bahwa dia mencintainya. ibunya tak pernah menjawab.

Kemudian pada suatu hari, setelah kira-kira tiga bulan berlalu, gadis itu terlambat berangkat kerja dan bergegas keluar rumah. Ibunya bergegas ke pintu. "Ada yang lupa," serunya. "Apa?" tanya si gadis.
"Kamu lupa mengatakan "Aku Cinta Mama." Keduanya berpelukan. Keduanya sembuh. Keduanya menangis.

Selamat PAgi....Iman, pengharapan dan Kasih, yang terbesar diantaranya adalah Kasih....KAsih memang dapat merubah segala kekakuan, segala amarah, segala benci, segala penyesalan, segala dendam, segala yang tidak mengenakkan hati...
hanya KASIH.....KASIH itu KRISTUS....

Tuhan YESUS memberkati...


Sabtu, 16 Juni 2012

MERCU SUAR

0 komentar
photo by Sonny Saban
Pada suatu malam yang berkabut di lautan, seorang nakhoda kapal melihat seuatu yang mirip dengan lampu sebuah kapal lain yang menuju ke arah kapalnya. Dia menyuruh anak buah-nya menghubungi kapal itu dengan memberikan sinyal berupa cahaya. Pesannya adalah : “Ubah haluanmu sepuluh derajat ke selatan.”
                Jawabannya : “Ubah haluanmu sepuluh derajat ke selatan.”

                Lalu, Nakhoda itu menjawab : “Aku nakhoda disini, jadi kamulah yang harus mengubah haluanmu sepuluh derajat ke selatan.”
                Jawaban : “Aku pelaut kelas satu-ubah haluanmu sepuluh derajat ke selatan.”

                jawaban itu benar-benar membuat sang nakhoda murka, sehingga dia membalas sinyal itu kembali: “Aku Kapal perang-ubah haluanmu sepuluh derajat ke selatan.”
                Jawaban : “Dan aku mercu suar. Ubah haluanmu sepuluh derajat ke selatan!”

Meskipun ringan, pesan kocak ini sangat gamblang : Ukuran kapal atau jabatan tidak ada artinya. Mercu Suar tidak bisa mengubah haluannya. Haluannya permanen, tetap. Hanya si nakhodalah yang memiliki pilihan apakah akan mengubah atau tidak mengubah haluannya.
Mercu suar ibarat prinsip. Prinsip tidak bisa dikotak-katik; prinsip bersifat universal dan abadi. Prinsip tidak berubah. Prinsip tidak memandang usia, ras, keyakinan, gender atau status. Setiap orang terkena oleh prinsip. Seperti mercu suar, prinsip menyediakan  tanda yang permanen, dan setiap orang dapat menetapkan arah yang mereka tuju, baik ketika sedang ada badai maupun dalam keadaan tenang, baik ketika gelap maupun terang.

Rabu, 07 Maret 2012

Tuhan Memberkati

0 komentar
Ada kesedihan terlintas,
Ada rasa sakit hati yang menerpa,
Ada kebencian yang menyusup,
Ada penyesalan mendalam,
Jika saja kata “seandainya” bisa membuat jiwa merasa lebih baik...
Dan ternyata tidak, "seandainya" tidak akan mengubah apapun.
Kebesaran hati, keberanian untuk melepaskanlah..
Kesediaan untuk memberilah..
Sebuah tarikan nafas, mengiringi beban yang terlepas..
Akhirnya hanya bisa memberkatimu dengan semua kelakuanmu
Kembalilah ke jalan yang baik, dan berikan kami contoh yang sudah sangat layak dan pantas kami dapatkan.
Semoga Tuhan memberkati.

PAKU-PAKU PADA TIANG

1 komentar
PAKU-PAKU PADA TIANG

Dalam cerita yang keras dari seorang pembaca di sekolah pada era Perang Saudara, kita melihat suatu jeni pelajaran lain yang diberikan di lingkungan rumah. Dalam cerita ini dikisahkan tentang seorang ayah yang memberikan pelajaran moral yang keras tetapi dengan cara yang mengasihi pada anak laki-lakinya.

Pada suatu waktu ada seorang petani yang mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama John. Anak muda ini sangat mudah untuk bersikap tergesa-gesa dan ceroboh dalam mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya.

Pada suatu hari, ayahnya berkata padanya, “John, kamu begitu ceroboh dan pelupa, karena itu setiap kali kamu melakukan kekeliruan, aku akan menancapkan sebuah paku pada tiang ini untuk mengingatkan kamu seberapa sering kamu bersikap nakal. Dan setiap kali kamu melakukan tugasmu dengan benar, aku akan mencabut satu paku dari tiang itu.” Ayahnya melakukan tepat seperti yang dikatakannya, dan setiap hari dia menancapkan satu paku dan kadang-kadang banyak sekali paku, tetapi jarang sekali mencabut paku.

Pada akhirnya John melihat bahwa tiang itu sudah hampir tertutup oleh paku dan dia mulai merasa malu dengan kesalahannya yang begitu banyak. Dia memutuskan untuk menjadi anak yang baik, dan hari berikutnya dia bersikap begitu manis dan rajin sehingga beberapa buah paku dicabut. Hari berikutnya lagi hal yang sama terjadi, dan seterusnya dan seterusnya sampai lama, sampai akhirnya hanya sebuah paku masih menancap disana. Ayahnya kemudian memanggilnya, dan berkata, “Lihat John, ini adalah paku terakhir dan sekarang aku akan mencabutnya. Apakah kamu tidak senang melihatnya?”

John memandang tiang itu, dan kemudian, bukannya mengungkapkan kegembiraannya, seperti yang diharapkan oleh ayahnya, dia menagis tersedu-sedu. “Ada apa,”tanya ayahnya, “mengapa kamu menagis? Aku pikir kamu akan bersukacita karena semua paku sudah tidak ada lagi.”

“Memang, “ kata John dengan sedu sedan didadanya, “memang semua paku sudah tidak kelihatan lagi, tetapi bekas-bekasnya masih ada disana.”

Jadi begitulah, anak-anak yang baik, dengan kesalahan-kesalahan dan kebiasaan-kebiasaan buruk kalian, kalian mungkin bisa mengatasinya, kalian mungkin bisa menyembuhkannya secara besar-besaran, tetapi bekas-bekas lukanya masih saja kelihatan. Jadi, terimalah nasihatku, dan kapan saja kalian menyadari bahwa kalian melakukan sesuatu yang salah, atau melakukan sesuatu yang buruk, berhentilah segera. Karena setiap kalian menyerah dan melakukannya, berarti kalian menancapkan sebuah paku lain, dan hal itu akan menginggalkan bekas luka pada jiwa kalian, bahkan meskipun setelah pakunya dicabut kemudian.

M.F. Cowdery


Rabu, 15 Februari 2012

AKU, MIKE, KUE BOLU

0 komentar
Putra kami yang berusia sembilan tahun, Mike, pulang dari rapat Club Scout dan mengabarkan bahwa kelompoknya akan menjadi penyelenggara acara jamuan makan dan penjualan kue bolu. Kue bolu harus dibuat oleh anggota Cub Scout dan ayah mereka.
Aku belum pernah membuat kue bolu. Tetapi, karena pernah melihat istriku menggunakan adonan instan, aku menyambut proyek itu tanpa protes.
Ketika saat itu tiba, aku dan Mike memilih adonan kue bolu instan warna kuning. Dengan mengikuti petunjuknya, kami campurkan bahan adonan itu dan menuangkannya ke dalam dua buah loyang bundar. Dengan penuh perAcya diri, kami masukkan kedua loyang itu ke dalam oven. Ketika mengeluarkannya setelah tiga puluh menit berlalu, sesuai dengan petunjuk, aku kaget
karena kue bolu itu tidak tegak dan