Tampilkan postingan dengan label cerita bijak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita bijak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

Kasih

0 komentar
Karena dibesarkan dalam keluarga yang suka menganaiaya, seorang gadis bersikap getir kepada orangtuanya. Tetapi ketika didiagnosis mengidap kanker payudara, dia memutuskan untuk mencintai orangtuanya, meskipun punya masa lalu yang kelam.

Setiap pagi, saat berangkat kerja, dia berkata kepada ibunya bahwa dia mencintainya. ibunya tak pernah menjawab.

Kemudian pada suatu hari, setelah kira-kira tiga bulan berlalu, gadis itu terlambat berangkat kerja dan bergegas keluar rumah. Ibunya bergegas ke pintu. "Ada yang lupa," serunya. "Apa?" tanya si gadis.
"Kamu lupa mengatakan "Aku Cinta Mama." Keduanya berpelukan. Keduanya sembuh. Keduanya menangis.

Selamat PAgi....Iman, pengharapan dan Kasih, yang terbesar diantaranya adalah Kasih....KAsih memang dapat merubah segala kekakuan, segala amarah, segala benci, segala penyesalan, segala dendam, segala yang tidak mengenakkan hati...
hanya KASIH.....KASIH itu KRISTUS....

Tuhan YESUS memberkati...


Rabu, 07 Maret 2012

PAKU-PAKU PADA TIANG

1 komentar
PAKU-PAKU PADA TIANG

Dalam cerita yang keras dari seorang pembaca di sekolah pada era Perang Saudara, kita melihat suatu jeni pelajaran lain yang diberikan di lingkungan rumah. Dalam cerita ini dikisahkan tentang seorang ayah yang memberikan pelajaran moral yang keras tetapi dengan cara yang mengasihi pada anak laki-lakinya.

Pada suatu waktu ada seorang petani yang mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama John. Anak muda ini sangat mudah untuk bersikap tergesa-gesa dan ceroboh dalam mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya.

Pada suatu hari, ayahnya berkata padanya, “John, kamu begitu ceroboh dan pelupa, karena itu setiap kali kamu melakukan kekeliruan, aku akan menancapkan sebuah paku pada tiang ini untuk mengingatkan kamu seberapa sering kamu bersikap nakal. Dan setiap kali kamu melakukan tugasmu dengan benar, aku akan mencabut satu paku dari tiang itu.” Ayahnya melakukan tepat seperti yang dikatakannya, dan setiap hari dia menancapkan satu paku dan kadang-kadang banyak sekali paku, tetapi jarang sekali mencabut paku.

Pada akhirnya John melihat bahwa tiang itu sudah hampir tertutup oleh paku dan dia mulai merasa malu dengan kesalahannya yang begitu banyak. Dia memutuskan untuk menjadi anak yang baik, dan hari berikutnya dia bersikap begitu manis dan rajin sehingga beberapa buah paku dicabut. Hari berikutnya lagi hal yang sama terjadi, dan seterusnya dan seterusnya sampai lama, sampai akhirnya hanya sebuah paku masih menancap disana. Ayahnya kemudian memanggilnya, dan berkata, “Lihat John, ini adalah paku terakhir dan sekarang aku akan mencabutnya. Apakah kamu tidak senang melihatnya?”

John memandang tiang itu, dan kemudian, bukannya mengungkapkan kegembiraannya, seperti yang diharapkan oleh ayahnya, dia menagis tersedu-sedu. “Ada apa,”tanya ayahnya, “mengapa kamu menagis? Aku pikir kamu akan bersukacita karena semua paku sudah tidak ada lagi.”

“Memang, “ kata John dengan sedu sedan didadanya, “memang semua paku sudah tidak kelihatan lagi, tetapi bekas-bekasnya masih ada disana.”

Jadi begitulah, anak-anak yang baik, dengan kesalahan-kesalahan dan kebiasaan-kebiasaan buruk kalian, kalian mungkin bisa mengatasinya, kalian mungkin bisa menyembuhkannya secara besar-besaran, tetapi bekas-bekas lukanya masih saja kelihatan. Jadi, terimalah nasihatku, dan kapan saja kalian menyadari bahwa kalian melakukan sesuatu yang salah, atau melakukan sesuatu yang buruk, berhentilah segera. Karena setiap kalian menyerah dan melakukannya, berarti kalian menancapkan sebuah paku lain, dan hal itu akan menginggalkan bekas luka pada jiwa kalian, bahkan meskipun setelah pakunya dicabut kemudian.

M.F. Cowdery


Rabu, 15 Februari 2012

AKU, MIKE, KUE BOLU

0 komentar
Putra kami yang berusia sembilan tahun, Mike, pulang dari rapat Club Scout dan mengabarkan bahwa kelompoknya akan menjadi penyelenggara acara jamuan makan dan penjualan kue bolu. Kue bolu harus dibuat oleh anggota Cub Scout dan ayah mereka.
Aku belum pernah membuat kue bolu. Tetapi, karena pernah melihat istriku menggunakan adonan instan, aku menyambut proyek itu tanpa protes.
Ketika saat itu tiba, aku dan Mike memilih adonan kue bolu instan warna kuning. Dengan mengikuti petunjuknya, kami campurkan bahan adonan itu dan menuangkannya ke dalam dua buah loyang bundar. Dengan penuh perAcya diri, kami masukkan kedua loyang itu ke dalam oven. Ketika mengeluarkannya setelah tiga puluh menit berlalu, sesuai dengan petunjuk, aku kaget
karena kue bolu itu tidak tegak dan

Sabtu, 14 Januari 2012

Kapan Ayah Pulang

0 komentar
Beberapa tahun yang lalu aku punya masalah-aku tak sabar berangkat ke kantor pada pagi hari dan baru pulang pada saat hari sudah malam dengan perasaan enggan. Menjadi anggota kabinet terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan pekerjaan lain yang pernah kulakukan sehingga aku tak pernah jemu.

Tidak mengherankan bahwa berbagai aspek dari kehidupanku ibaratnya mengkerut seperti kismis

Kapan Ayah Pulang

0 komentar
Beberapa tahun yang lalu aku punya masalah-aku tak sabar berangkat ke kantor pada pagi hari dan baru pulang pada saat hari sudah malam dengan perasaan enggan. Menjadi anggota kabinet terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan pekerjaan lain yang pernah kulakukan sehingga aku tak pernah jemu.

Tidak mengherankan bahwa berbagai aspek dari kehidupanku ibaratnya mengkerut seperti kismis kering. Aku kehilangan kontak dengan teman-teman lamaku. Aku jarang bertemu dengan istriku, bahkan lebih jarang lagi dengan kedua putraku, Adam yang waktu itu berusia 12 tahun, dan Sam 12 tahun.

Suatu sore untuk keenam kalinya secara berturut-turut, aku menelepon ke rumah untuk mengatakan kepada kedua puteraku bahwa sekali lagi aku tidak bisa pulang sebelum jam tidur mereka. Tidak apa-apa, kata Sam. Tapi bisakah ayah membangunkanku kalau Ayah sudah pulang? Pasti sudah larut malam, jawabku. Dia pasti suda tertidur lelap jauh sebelum aku tiba di rumah. Mungkin lebih baik kalau kita bertemu di pagi hari saja.

Sam mendengarkan , tapi bersikeras dengan keinginannya. Kutanya mengapa. Jawabnya, dia hanya ingin yakin bahwa aku sudah benar-benar pulang.

Sampai sekarang aku tidak bisa menjelaskan secara tepat apa yang terjadi pada saat itu, tetapi tiba-tiba saja aku sadar, dengan keputusan yang mantap, bahwa aku harus meninggalkan pekerjaanku.

ROBERT REICH
MANTAN MENTERI TENAGA KERJA AS.

Sabtu, 31 Desember 2011

ORANG YANG LEBIH MENCINTAI UANG DARIPADA KEHIDUPAN

0 komentar
Keserakahan merupakan suatu emosi yang sangat kuat. Ia bisa menyengat, ia bisa melukai, ia bisa mematahkan-ia bisa membunuh. Dongeng ini berasal dari Cina.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang penebang kayu yang pergi ke atas gunung hampir setiap hari untuk menebang kayu.
Orang-orang berkata laki-laki ini adalah seorang yang amat pelit yang mengumpulkan peraknya sampai bisa ditukar dengan emas dan dia lebih mementingkan emas daripada apapun di dunia ini.

Kamis, 29 Desember 2011

IKAN KECIL YANG TIDAK MAU MELAKUKAN SEPERTI YANG DIPERINTAHKAN

0 komentar
“Ibu yang baik,” kata seorang ikan kecil,
            “Bukankah itu seekor lalat?
Aku sangat lapar dan aku ingin sekali
            Engkau perbolehkan untuk pergi dan menangkap.”

“Anak bodoh yang manis,” teriak ibunya,
            Dan ia keluar dari tempat kesukaannya,
“Lalat yang menakutkan itu dipasang
            Untuk menyembunyikan tajamnya kail.”

Nah, seperti yang aku dengar, ikan trout kecil ini
            Masih muda dan bodoh juga,
Dan dia berpikir dia ingin menyelidik,
            Untuk memastikan apakah hal itu benar adanya.

Dan disekeliling kail itu dia bermain-main,
            Dengan tatapan yang menyelidik,
Dan-“Wah,” katanya pada dirinya sendiri,
“Aku yakin ini bukan sebuah kail.

Aku hanya perlu melakukan satu tarikan kecil;
            Coba lihat, dan aku akan melakukannya.”
Lalu dia melakukannya dan lihat! Dia terkait
Sampai menyangkut di insangnya yang kecil.

Dan sementara dia menjadi lemah dan semakin lemah,
Dengan suara yang lirih dia berseru,
“Ibu yang baik, kalau saja aku menurutimu,
Aku tidak harus mati sekarang.”

Rabu, 07 Desember 2011

Bukan Kerikil

0 komentar
Di Pulau Channel di Jersey, di bukit yang menghadap ke dermaga, kutemukan sebuah bangku yang sudah usang dan berlumut.

Satu abad yang lalu, ketika Victor Hugo sedang dikucilkan, sakit, dianiaya oleh Perancis yang dicintainya, dia mendaki bukit ini setiap sore dan, sambil menatap matahari terbenam, melakukan meditasi dengan khusyuk.
Di akhir meditasinya, dia bangkit dan, sambil memilih kerikil dengan ukuran beragam-kadang kecil, di saat lain yang lebih besar-dilontarkannya kerikil ke hamparan air dibawahnya.

Perbuatannya tidak luput dari perhatian sekelompok anak yang sedang bermain di dekat situ.

Pada suatu senja, seorang anak perempuan, yang lebih berani daripada anak lainnya, bergerak maju.

“Monsieur Hugo, mengapa Anda kemari dan melemparkan batu kerikil?”

Sang penulis ulung itu terdiam, kemudian tersenyum getir.

“Bukan kerikil, Nak. Aku melemparkan rasa iba kepada diri sendiri ke laut.”

A.    J. CRONIN

Minggu, 06 November 2011

Kisah Tentang Memberi Maaf

0 komentar

Karena dibesarkan dalam keluarga yang suka menganiaya, seorang gadis bersikap getir pada orangtuanya. Tetapi, ketika didiagnosis mengidap kanker payudara, dia memutuskan untuk mencintai orangtuanya, meskipun punya masa lalu yang kelam.
Setiap pagi, saat berangkat kerja, dia berkata kepada ibunya bahwa dia mencintainya. Ibunya tak pernah menjawab.
Kemudian pada suatu hari, setelah kira-kira tiga bulan berlalu, gadis itu terlambat berangkat kerja dan bergegas keluar rumah. Ibunya bergerak ke pintu. “Ada yang lupa,” serunya. “Apa?” tanya si gadis. “Kamu lupa mengatakan aku cinta Mama.” Keduanya berpelukan. Keduanya menangis. Keduanya sembuh.
BERNIE S.SIEGEL
PRESCRIPTIONS FOR LIVINGS 

Rabu, 17 Agustus 2011

KELUARGA YANG PASRAH

0 komentar

Ada sepasang suami istri yang sudah menikah selama 20 tahun tetapi belum juga memiliki seorang anak. Betapa girang hati mereka ketika mengetahui dan menyadari bahwa sang ibu hamil dan akan melahirkan seorang bayi. Tetapi, pada saat kelahirannya, dokter yang membantu persalinan si bayi, merasa pedih karena ia melihat bayi itu hanya memiliki tangan kiri yang kecil.

Ayah si bayi yang melihat kondisi sang anak merasa sangat terpukul dan sedih. Keduanya bingung, bagaimana harus menyampaikan keadaan ini kepada sang ibu. Tetapi, akirnya sanga ayah dengan tegar mengatakan :”Biarlah saya sendiri akan memberitahukan kepada istri saya”.

Bersama-sama sang dokter dan sang ayah meletakkan bayi yang terbalut itu ke sisi ibunya. Sang ibu melihat dan mengagumi kulit bayinya yang halus, menyisir rambutnya dan menciumnya dengan mesra, lalu bertanya kepada suaminya : “Dia sangat sempurna, bukan?” Suara suaminya tercekak di kerongkongan. Ia mengerti isayart dari suaminya. Dengan perlahan-lahan ia membuka selimut bayinya dan melihat tangan yang cacat itu. Ruangan itu menjadi hening seketika. Kemudian dia menoleh kepada suaminya dan berkata dengan lembut :”Harry,Tuhan mengetahui kepada siapa bayi ini dititipkan. Ia adalah titipan Tuhan untuk kita. Tuhan mengetahui betapa kita membutuhkannya dan betapa ia membutuhkan kita. Kita pasrahkan keluarga kita kepada Tuhan, juga masa depan anak kita!”

Anak-anak yang dilahirkan oleh setiap pasangan suami istri adalah karunia Tuhan dan sekaligus titipan Tuhan untuk dipelihara dan dibesarkan dengan kasih sayang sesuai rencana sang pencipta. Para orang tua hendaknya tidak membesarkan anak sesuai cita-cita mereka belaka. Anak-anak itu harus bertumbuh menjadi dirinya sendiri secara unik sesuai rencana Tuhan. Semua anak akhirnya harus diarahkan kepada Tuhan, karena dari sana mereka datang.

Senin, 15 Agustus 2011

Gembala Yang Baik

0 komentar

Dalam dunia Islam ada ceritera-ceritera sufi yang menarik tentang kepemimpinan yang ideal. Salah satu ceritera tentang kepemimpinan ideal adalah ceritera tentang kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab.

Diceritakan bahwa Khalifah Umar adalah seorang pemimpin yang sangat dekat dengan rakyatnya. Ia sering berkeliling negeri untuk melihat dan mendengar dari dekat mengenai keadaan rakyt dan umatnya.

Pada suatu malam ia berjalan-jalan di kota Baghdad. Pada suatu sudut jalan di pinggiran kota Ia melihat sebuah gubuk reot. Dari luar gubuk itu dapat dilihat kelap-kelip cahaya api dari pertungkuan lewat celah-celah dindingnya. Sementara itu Khalifah Umar mendengar tangis seorang anak kecil yang berkepanjangan, yang selalu diselingi oleh suara seorang wanita, mungkin ibu anak itu, yang berkata : “Sabar nak, sebentar lagi akan masak!”

Khalifah Umar berjalan terus. Beberapa jam kemudian beliau lewat lagi di jalan itu. Tangis anak it masih kedengaran dan suara ibunya masih tetap berkata: “Sabar nak, sebentar lagi akan masak!” Khalifah Umar berpikir : Apa saja yang dimasak oleh ibu itu dalam waktu yang sekian lama. Ingin tahu Ia masuk ke dalam gubuk dan menutup periuk yang terjerang di perapian. Beliau kaget setengah mati, karena ibu itu rupanya memasak batu-batu, sekedar untuk menghibur anaknya. Khalifah Umar yang sedang menyamar, menegur ibu itu : “Ibu, ibu tentu tahu bahwa Khalifah Umar itu seorang pemimpin yang baik! Mengapa ibu tidak datang kepadanya untuk memberitahukan keadaan ibu?? Apa jawaban ibu itu? Ia berkata : “Kalau Khalifah Umar itu seorang pemimpin yang baik, maka bukan saya yang datang kepadanya, tetapi beliau yang harus datang kepada saya!” Khalifah Umar terpaku dan tercekak kerongkongannya. Ia cepat-cepat kembali ke istana, dan malam itu juga pemimpin besar umat Islam itu memikul satu karung gandum ke pondok ibu miskin tadi. ‘

Seorang pemimpin besar yang berhati mulia!!.

Kamis, 28 Juli 2011

" TIDAK ADA YANG TAHU "

0 komentar

Kisah Orang Tua Bijak

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak : "Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin...

Selasa, 19 Juli 2011

Kehidupan

0 komentar

Betapa anehnya, prosesi kecil kehidupan kita ini! Anak kecil berkata, “Kalau aku sudah besar nanti.” Anak yang sudah besar berkata, “Kalau aku sudah dewasa nanti.” Dan, orang yang sudah dewasa berkata, “Kalau aku sudah menikah nanti.” Kemudian, ketika masa pensiun tiba, dia menengok kembali ke masa lalu yang sudah ditapakinya: angin dingin seakan-akan sudah menyapunya; entah bagaimana, dia sudah melewatkan semuanya, dan semuanya sudah hilang. Kita sudah terlambat untuk menyadari bahwa hidup itu ada dalam kehidupan, dalam kehidupan yang terjadi setiap hari dan setiap jam.

STEPHEN LEACOCK

Sabtu, 02 Juli 2011

Biskuit

0 komentar

Seorang temanku, yang pulang ke Afrika Selatan setelah tinggal lama di Eropa, terdampar cukup lama di Bandara Heathrow London. Setelah membeli secangkir kopi dan sebungkus kecil biskuit, dia berjalan dengan gontai, sambil menyeret kopernya yang berat, menuju sebuah meja kosong. Dia sedang membaca koran pagi ketika menyadari ada orang yang menimbulkan suara gemerisik di mejanya. Dari balik korannya, dengan tercengang dia melihat seorang pemuda berpakaian rapi mengambil biskuitnya. Temanku tidak ingin membuat onar, jadi dia mencondongkan badannya ke depan dan mengambil biskuit itu. Semenit dua menit kemudian pun berlalu. Terdengar lagi suara gemerisik. Ternyata pemuda itu mengambil satu lagi biskuit.

Ketika biskuit tinggal satu lagi, temanku itu menjadi geram, tapi tetap saja tidak berkata apa-apa. Kemudian, pemuda itu membagi dua biskuit itu, mendorong sepotong ke dekat temanku, memakan potongan biskuit yang ada padanya lalu pergi.

Beberapa waktu kemudian, ketika pengeras suara menyerukan agar temanku datang untuk menunjukkan tiket pesawatnya, temanku itu masih geram. Bayangkan rasa malunya ketika dia membuka tasnya dan menemukan bungkusan biskuit ada di dalam tas. Ternyata tadi itu dialah yang memakan biskuit itu.

Dan P. Greyling

Senin, 27 Juni 2011

KERENDAHAN HATI

0 komentar

Suatu hari di rumah pertama yang didirikan ibu Theresa untuk para pengidap penyakit yang tak bisa disembuhkan, seorang lelaki yang separuh tubuhnya sudah digerogoti kanker dibawa masuk. Seorang pembantu lelaki begitu tidak tahan oleh bau busuk yang menyengat sehingga memalingkan muka, menahan muntah. Ibu Theresa mengambil alih tugas itu.

Pasien yang menderita itu menegurnya. “Bagaimana bisa ibu tahan akan bau busuk ini?” tanyanya dengan ketus.

“Baunya tidak apa,” jawabnya, “dibandingkan dengan sakit yang kaurasakan.”

New York Times